Malu karena Allah adalah perona pipinya…..
Penghias rambutnya
adalah jilbab yang terulur sampai dadanya…..
Zikir yang senantiasa
membasahi bibir adalah lipstiknya……
Kacamatanya adalah penglihatan yang
terhindar dari maksiat……
Air wudhu adalah bedaknya untuk cahaya di
akherat….
Kaki indahnya selalu menghadiri majelis ilmu……
Tanganya selalu
berbuat baik pada sesama….
Pendengaran yang ma’ruf adalah anting
muslimah…..
Gelangnya adalah tawadhu…..
Kalungnya adalah kesucian......
Peran Wanita dalam Generasi muslim
surat untuk Dimas
Surat untuk Dimas
Ghozwul Fikri dalam kehidupan kita
mereka (kaum zionis) akhirnya mulai berpikir, mengapa mereka selalu kalah terhadap kaum muslim di saat perang. akhirnya mereka mempelajari al-quran dan meneliti semua para kaum-kaum muslim. mereka mendapatkan bahwa, kaum muslim yang disiang hari berjalan dengan gagah tanpa mempunyai rasa takut kepada siapa pun, di malam harinya mereka menangis sambil bersujud dalam sholatnya. sejak saat itu lah mereka mulai berpikir bahwa kunci orang muslim adalah Al-Quran.
Muhammad Novraldo Alfastrada.
rumus mengatasi tekanan hidup
1. semakin besar gaya yang di berikan namun luasan yang diberikan kecil maka tekanan yang terjadi juga semakin besar.
2. Namun jika gaya yang di terima besar dan luasan yg digunakan untuk menahan juga besar, maka tekanan yang terjadi tidak mengalami peningkatan yang berarti bahkan semakin memperluas luasan maka tekanan yang terjadi semakin kecil.’
Dari filosofi tersebut saya coba membuat formulasi untuk mengatasi tekanan hidup pada diri kita sebagai manusia.
jadi, NIKMATI HIDUPMU..... SANTAIIII AJAHHH, SEMUA PASTI ADA JALAN KELUAR
sedih dan tangis itu satu paket (2)
lanjutan sedih dan tangis itu satu paket....
aku tak berani sedikit pun menatapnya saat itu, aku hanya mendengarkan suara tangisnya yang begitu tersedu-sedu. aku tau bagaimana rasanya di campakan, aku tau bagaimana sedihnya dia. semua aku dapatkan dari dia, dia yang menangis di pundakku saat ini, mungkin aku manusia terbodoh yang pernah ada. aku seakan-akan pahlawan yang datang disaat genting dan menyelesaikan masalah yang ada, padahal hatiku menangis. aku menangis tapi tak ada satu pun yang dapat mendengarkannya. tentu saja tak ada yang mendengar, karena aku hanya menangis dalam hati. mengapa aku tetap mencintainya? mengapa? hati ini tak pernah bisa menjawab. semakin aku ingin melupakannya semakin tak bisa aku melupakannya. sekarang, saat ini dia sedang menangis di sisiku, tapi kenapa aku mau menjadi tempat bersandar.
"kau tau? mungkin ini adalah sebuah karma bagiku, dulu aku pernah menolakmu. aku mencapakanmu begitu saja. kini aku tau bagaimana perasaanmu saat itu"
tiba-tiba dia mengatakan hal itu padaku, aku hanya bisa diam. seharusnya aku senang melihatnya. karna dia dapat merasakan hal yang dulu dia perbuat padaku. tapi kenapa hatiku semakin sakit mendengar hal itu. kenapa aku malah bertambah sedih. apa yang sebenarnya aku inginkan?
"ntahlah... aku tidak terlalu percaya akan karma, tidak penting bagiku kau pernah mencapakanku atau tidak. lagi pula aku mencitaimu karna aku memang suka, kamu tak pernah memaksaku untuk mencintamu. sudah bisa mencintaimu pun aku sudah sangat berterima kasih, bagiku itu sudah cukup." aku menahan nafasku menahan air mata yang tak terbendung lagi di ujung pelipis mataku.
aku mengepal tanganku erat-erat dan aku menggigit bibirku dengan keras lalu aku arahkan kepalaku keatas agar air mataku tidak terjatuh.
sedih dan tangis itu satu paket
aku menemukannya,..
saat ini dia sedang duduk di sebuah taman. dia menangis. terlihat jelas dari sikap dan gerak gerik tubuhnya.
aku berjalan perlahan menuju ke arahnya, dan berdiri tepat di belakangnya. dia tidak menyadari sosok diriku yang saat ini sedang menatap sedih dirinya. rasanya ingin aku menghiburnya.
cukup lama aku berdiri dibelakangnya tanpa berbuat suatu apa pun, aku hanya melihatnya menangis dan menangis. aku memang bodoh, disaat begini aku malah bingung harus berbuat apa. dan lebih bodohnya lagi kenapa aku selalu mencintainya yang selalu membawa kesedihan untukku.
aku pun mencoba memberanikan diri untuk duduk disebelahnya.
dia pun terkejut dan mengusap air matanya. mungkin dia malu.
"kau tau? saat seseorang sedih, mereka selalu bilang,, tinggalkan aku sendirian... sejujurnya itu bohong. sebenarnya mereka membutuhkan seseorang. seseorang yang dapat memberikan ketenangan"
dia hanya diam dan tak berkata apa pun.
"dan kau tau? seseorang itu bisa memberikan apa yang kau perlukan saat kamu menangis, memberikan apa yang dapat membuatmu merasa lebih baik. tapi, kesedihan tidak dapat di hilangkan dengan kesenangan di sekelilingnya, tapi kesedihan itu harus di buang dengan cara bersedih juga"
dia menatapku. tapi aku tak menatap wajahnya. aku dapat merasakan bahwa dia menatapku. aku mencoba untuk tenang dan melanjutkan kalimat ku.
"sedih dan tangis merupakan suatu paket. sedih merupakan racun dan tangis adalah penawarnya, jadi seseorang di butuhkan bukan untuk menghibur, tapi untuk menemani kita. dimana dia meminjamkan kita sebuah bahu. bahu untuk tempat kita bersandar dan membuat kita nyaman untuk menangis sampai kita merasa baikkan"
suasana pun menjadi hening, pikiran ku berkecamuk menjadi satu. aku menyesal telah mengatakan itu, aku takut dia malah marah dan malah bertambah sedih. ingin rasanya aku menjahit mulutku agar membuatnya tetap diam. aku terlalu naif untuk dapat membuatnya merasa lebih baik. ntah apa yang aku pikirkan, hingga aku mampu berkata seperti itu
lalu, tiba-tiba dia pun menyandarkan kepalanya di bahu ku, dan aku pun hanya terdiam. namun aku tetap tidak melihat kearahnya,,, dan hanya diam mendengarkan tangisannya malam itu.


